Powered By Blogger

05 Juli 2009

Indah pada waktunya.......





  • Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengirimkan pesan singkat via SMS, yang bunyinya,

"...waktu saya meminta kupu-kupu yang cantik, DIA memberikan seekor ulat 'jelek', waktu saya meminta setangkai bunga yang indah, DIA memberikan kaktus berduri, selama sesaat saya sedih, kecewa, lalu bertanya, mengapa? Namun, tak lama kemudian kaktus itu berbunga, bunganya sangat indah, begitu pun ulat tadi, dia berubah (metamorfosis) menjadi kupu-kupu yang cantik, saya pun, tersenyum rencana-Nya memang indah pada waktunya..."

Setelah membaca SMS tersebut, saya lalu 'mengutak atik' gambar' kepompong, kupu-kupu dan kaktus....... 9seperti diatas) Oh,  Rupanya, dia telah mengingatkan saya, bagaimana menikmati  yang namanya PROSES. Memang, butuh waktu, untuk menjadi 'sesuatu' yang indah. Karena tidak ada yang instan di dunia ini..............

Saya pun, TERSENYUM........"DIA memang menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya, kenapa saya harus takut?, jalani aja.....nikmati!".

:) JB for people

JANDA ITU MENGAJARI SAYA ARTI MEMBERI


Hari ini (Minggu,05/7/09), saya mendapat 'pelajaran' yang sangat 'bernilai' dari seseorang yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan 'mengajari' saya arti Memberi.  

Saya bersyukur pada TUHAN, karena Dia memberikan saya kesempatan untuk melayani Dia di Makassar. Walau saya belum diberikan  kepercayaan menjadi seorang Gembala atau Pendeta Jemaat, tetapi 'aktivitasnya' sudah saya jalani selama ini.   Setiap hari Minggu (pagi) saya selalu mengunjungi seorang ibu (janda) berusia + 70 tahun, beliau sudah belasan tahun, tidak dapat berjalan (lumpuh). Karena dia tidak dapat berjalan, maka sudah bertahun-tahun dia tidak pernah ke Gereja lagi.  Singkat cerita, saya lalu 'meminta ijin' pada anak-anaknya, untuk melayani Ibu tersebut. Setelah di ijinkan, setiap minggu pagi saya ke rumah ibu tersebut, bersama dia, kami menyanyikan pujian, berdoa, baca dan Sharing Firman Tuhan. 

Seperti biasa, tadi pagi, saya ke rumahnya. Setelah selesai ibadah, ibu tersebut menyalami saya, tapi kali ini beda. Tangan saya digengam erat, kemudian ia mengulurkan tangannya yang lain dan menyodorkan 'sesuatu'. Saya terkejut, kaget! saya menolak, tetapi ia menatap saya, kemudian ia berkata, "....terima kasih, kamu sudah melayani......mungkin pemberian saya, tak seberapa, tapi terimalah, karena ini dari hati saya..." saya tak kuasa menatap matanya, akhirnya saya menerima. Saya sangat terharu,  saya tahu persis kehidupan ibu itu,   Ibu itu memberi dalam 'kekurangannya'.  Wajah saya seperti ditampar, selama ini dalam kelebihan saja saya jarang memberi, apalagi dalam kekurangan.

Saya lalu membayangkan, bagaimana janda yang dipuji oleh Yesus, karena memberi dari kekurangannya. Memang, tidak mudah memberi dalam kekurangan, tapi apakah kita harus menunggu sampai kelebihan baru memberi? 

Tuhan, mampukan saya untuk selalu memberi, selagi masih ada kesempatan!

02 Juli 2009

ANDA SETIA ATAU TIDAK?


Pertanyaan yang  gampang, jawabannya pun gampang, kalo pilihannya hanya 'ya' dan 'tidak', tapi bukan disitu substansi dari pertanyaan tersebut! Pertanyaan ini, merupakan refleksi dari Mazmur 50. 

Kita mungkin berpendapat bahwa umat Allah adalah orang benar. Namun Alkitab menunjukkan bahwa umat Allah bukan hanya terdiri dari orang yang sungguh beriman, tetapi juga ada umat yang tidak sungguh beriman. Nas hari ini menunjukkan bagaimana Allah menghakimi umat yang dipisahkan ke dalam dua kelompok berbeda ini.

Tiga nama Allah yang dipakai pada ayat 1 (El, Elohim, Yahweh), yang menggabungkan nuansa kemahakuasaan Allah dan Allah umat perjanjian, sangat tepat karena Allah muncul sebagai Hakim berkuasa, yang akan menghakimi umat-Nya. Mereka disebut sebagai “orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku” (5). Penghakiman ini tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan hukuman, tetapi supaya umat bertobat. Ia mengingatkan mereka bahwa Ia sesungguhnya tidak memerlukan korban yang mereka persembahkan. Mengapa? Karena Ia adalah pemilik alam semes-ta dan tidak membutuhkan binatang-binatang itu (8-13). Allah menginginkan umat mempersembahkan syukur sebagai korban dan menepati nazar yang mereka janjikan (14). Lalu penghakiman tersebut ditutup dengan janji bahwa Allah akan menolong umat yang berseru kepada Dia (15).

Berikutnya Allah menghakimi umat yang tidak setia. Mereka disebut orang fasik walaupun mereka umat Allah, yang juga menyebut-nyebut perjanjian Allah dengan mulut mereka (16). Umat yang fasik ini didakwa membenci teguran Tuhan dan melakukan banyak kejahatan (17-20). Mereka bahkan menganggap bahwa Allah sederajat dengan mereka (21). Allah memperingatkan mereka yang telah melupakan Dia agar bertobat, karena jika tidak Allah akan menerkam mereka (22). Sebaliknya siapa yang mempersembahkan korban syu-kur dan jujur akan diselamatkan Allah (23).

Marilah kita introspeksi diri, apakah kita termasuk umat yang setia atau tidak setia? Jika kita termasuk setia, mari pertahankan kesetiaan kita. Jika termasuk umat yang tidak setia, cepat bertobat, jangan sampai Allah ‘menerkam’ kita...................tersenyumlah, karena masih ada kesempatan bagi kita untuk merenungkannya. (JB for People)

29 Juni 2009

UNTUNG TUHAN TIDAK PERNAH MENYERAH


Pada tanggal 7 Desember 1998 di bagian utara Armenia, suatu gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter menghancurkan sebuah gedung sekolah diantara bangunan-bangunan lainnya. Di tengah keramaian dan suasana panik, seorang bapak berlari menuju ke sekolah tersebut, dimana anaknya menuntut ilmu setiap harinya. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya itu, "Hai anakku, apapun yang terjadi, papa akan selalu bersamamu!"

Sesampainya di tempat di mana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total! Pertama-tama ia hanya berdiri saja di sana sambil menahan tangis. Namun kemudian...tiba-tiba ia pergi ke bagian sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan hanya menggunakan tangannya sendiri ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk di sana. Ada seseorang yang
sempat menegurnya, "Pak, itu tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati."

Bapak itu menjawab, "Kamu bisa berdiri saja di sana, atau kamu bisa membantu mengangkat batu-batu ini!" Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka capek dan menyerah. Sebaliknya, si bapak tidak bisa berhenti memikirkan anaknya, maka ia menggali terus.

Dua jam telah berlalu, lalu lima jam, sepuluh jam, tigabelas jam,
delapan belas jam. Lalu tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian dari papan itu, dan berteriak, "Armando!", dan dari kegelapan di bawah itu terdengarlah suara kecil, "Papa!". Kemudian terdengarlah suara-suara yang lain sementara anak-anak yang selamat itu ikut berteriak!

Semua orang yang ada di sekitar reruntuhan itu, kebanyakan para orang tua dari murid-murid itu, kaget dan bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan mereka. Mereka menemukan 14 anak yang masih hidup itu! Pada saat Armando sudah selamat, dia membantu untuk menggali dan mengangkat batu-batu sampai teman-temannya sudah diselamatkan semua. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya itu, "Lihat, aku sudah bilang kan, bahwa papaku pasti akan datang untuk menyelamatkan kita!"

Mari kita renungkan bagaimana kita menjalani hidup kita. Di saat kita dalam kegelapan, tertimpa oleh macam-macam beban masalah, jatuh dalam kelemahan dan dosa. Apakah kita lantas berkeluh kesah, putus harapan, dan lantas mengibarkan bendera putih pada dunia tanda menyerah? Ataukah kita akan bersikap seperti Armando, yang terus menggenggam HARAPAN? bahwa Seseorang sedang mencari kita dan siap menyelamatkan kita? Seseorang yang tak akan pernah menyerah sampai kita sudah di dalam pelukan-Nya.

(cerita ini, dikirim seorang sahabat)

28 Juni 2009

Quo Vadis Pendidikan Teologi di Indonesia?


Kemarin (sabtu, 27/06/ 2009) saya mendapat 'kesempatan langkah' mengikuti Seminar dan Lokakarya (SEMILOKA) Penulisan disemua Media, yg difasilitasi oleh CHRISTIAN LEADERSHIP NETWORK CENTRE (CLNC) dan Yayasan Komunikasi Masyarakat (YAKOMA)-PGI.....di Resto & Ballroom Himalaya Makassar, Sul-Sel. 

Dari beberapa Pemateri, yang membawakan materi, "WRITE YOUR VISION"._Bung Mula Harahap (Dir. YAKOMA dan mantan editor BPK-GM Jakarta), Ronald Ngantung (wartawan senior Suara Pembaruan, Sinar Harapan dan Wapemred Tribun Timur), Ps. herry Adiyanto (Webmaster-top ten),dll_ saya sangat senang sekaligus 'jengkel' dengan Ayah Mula (tapi saya tidak katakan, saya tidak senang dengan pemateri lainnya). 

Karena 'jengkel' itulah, saya berani sharingkan (diskusikan) di FB, tentunya setelah mendapat 'ijin' dari beliau (katanya beliau, 'senang' dikomentari, dicaci, dll....bagus ini pikir saya. 

Dengan gayanya yang khas, beliau memaparkan seluk beluk dunia tulis-menulis, beliau begitu semangat...menceritakan 'masa keemasan' penulis/penerbit Kristen beberapa tahun silam......tiba-tiba suaranya mulai perlahan, "kini, semua tinggal kenangan..........." betapa tidak, penulis/ penerbit Kristen mulai 'tenggelam' .....dan kalah dari 'saudara sepupu" .....

Lalu Ia, berteriak, "...mana anak-anak Sekolah/fakultas Teologi?...mana karya mereka?".....coba lihat 'saudara sepupu' yang sekolah di 'STT juga' karya mereka tidak hanya dinikmati oleh kalangan mereka, tapi kita pun menikmatinya....lihatlah Ayat-Ayat Cinta dan novel, buku lainnya penulisnya juga 'anak STT' kok?.
Beberapa teman saya (yang kebetulan berasal dari STT yang sebenarnya bukan tanda -"-) langsung 'bereaksi memprotes', saya sih diam-diam saja toh ada benarnya...... saya malah berterimaksih kepada Ayah Mula yang telah 'memprovokasi' saya.......

Memang, tidak objektif kalau masalah tulis-menulis dijadikan parameter mengukur peranan Sekolah/fakultas Teologi, karena memang 'bukan untuk itu' tujuan Sekolah/fakultas Teologi. Tetapi paling tidak, hal ini 'mengindikasikan' bahwa ada 'sesuatu' yang 'tidak beres' dengan Sekolah-Sekolah/fakultas-fakultas Teologi di Negeri ini . Ada 'indikasi' Sekolah/fakultas Teologi 'mengeksklusifkan' diri....kotor kalau memikirkan yang 'duniawi'............kita lebih suka memikirkan hubungan jemaat/ warga Gereja kita, dengan Tuhan. Dan membiarkan' mereka' yang memikirkan itu, benar juga!. 

Sayangnya, justru disinilah letak 'kelemahan' kita, kita 'gagal' memainkan peran kita sebagai garam dan terang. sebenarnya, kita hanya bisa jadi terang (yang menarang)i kalo kita ada dalam kegelapan, bukan sebaliknya kita menjadi terang ditempat yang terang, he..he.........

Saya jadi teringat dengan salah satu artikel di Buletin Oikumene PGI edisi Mei 2009, rupanya, Pendidikan Teologi tidak menumbuhkan kesadaran kritis dan emansipatoris, sebaliknya Sekolah-Sekolah/ Fakultas Teologi lebih menyerupai lembaga pencucian otak, sebagaimana di negara otoriter dan totaliter........

Maka, wajar saja, kalau dewasa ini, Sekolah/ fakultas teologi tidak lagi 'menarik' (diminati). Beda memang dengan zamannya John Calvin,dkk...............!

JB for people.

Bahaya kekeringan Rohani




Ada sebuah pertanyaan klasik, Mengapa Tuhan mengizinkan umat-Nya yang sedang berjalan di padang gurun berulang kali mengalami kekurangan air?  ( lih. Kel. 15:23, Bil. 20:2), Apakah TUHAN tidak tahu bahwa air merupakan kebutuhan vital yang harus dipenuhi tepat pada waktunya, lalu bagaimana dengan anak-anak yang mengalami dehidrasi?

'Pasti' sebagian besar dari kita akan menjawab, Agar mereka belajar bersandar penuh kepada Dia.  Jawaban yang tepat, namun terlalu cepat! he..he.. 

Sekali lagi, lewat kisah ini, kita melihat umat Tuhan yang bertingkah laku bukan sebagai umat beriman. Wajar sekali bila orang mengalami kehausan karena kekurangan air saat berada di padang gurun yang gersang. Akan tetapi, bukankah mereka sudah beberapa kali melihat bagaimana Tuhan menghantar mereka melewati padang kesulitan? Bukankah mereka sudah mengalami sendiri bagaimana Tuhan memelihara mereka dengan cara-Nya yang ajaib? Sayang sekali mereka bebal. Perhatian mereka hanya tertuju pada penderitaan yang akan mereka hadapi di padang gurun. Mereka tidak mau bila kondisi di gurun jauh lebih buruk daripada kondisi mereka ketika masih di Mesir. Di Mesir mereka dapat menikmati makanan secara berkelimpahan. Celakanya mereka lupa bahwa di Mesir mereka tidak merdeka karena secara fisik maupun mental, mereka adalah budak dari Firaun. Di balik keluh kesah tentang kedahagaan jasmani, sebenarnya mereka mengalami kedahagaan yang jauh lebih mengerikan yaitu, kerohanian yang dahaga. Kekeringan rohani membuat mereka tidak mampu melihat dan merasakan kehadiran Tuhan yang seharusnya menyegarkan hidup.

Dunia sekarang ini adalah dunia dengan gejala kekeringan dan kedahagaan rohani luar biasa. Buktinya adalah kebangkitan agama dan aliran kepercayaan, maraknya tempat-tempat hiburan, pengejaran terhadap status, kekayaan, dan kemewahan. Yang celaka tentu kalau orang Kristen sendiri terjebak ke dalam situasi ini. Sebagai anak-anak Tuhan, mari segarkan rohani kita dengan mendekatkan diri kepada Dia lewat persekutuan yang intim dalam firman dan doa. Jika berbagai tanda kekeringan rohani Anda rasakan kini, akuilah kepada Tuhan. Jadikan ini sebagai kesempatan untuk merasakan Tuhan memuaskan dahaga Anda.

JB for people.....

27 Juni 2009

KENANGAN MASA KECIL DI BUKIT SEPI BEBALAIN


mai fali e' mai fali e'

mama helu ita fali e.....

ledoh ana tena so, bulak a moli so

mama helu ita fali e...

mai fali e, mai fali e...

mama helu ita fali...

senandung lagu ini, membawa anganku.............................................................mengenang sebuah nama BEBALAIN.

'Tengkorak' entah, ada hubungannya atau tidak dengan nama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat CALVARI BEBALAIN, yang jelas orang-orang tua doeloe sering menyebut Bebalain dengan bukit tengkorak..........mirip yach dengan kisah dalam Alkitab? saya kadang membandingkannya, tapi ya pasti beda, jadi ....lupakan sajalah!

Yang jelas, Bebalain itu nama sebuah desa sekaligus dusun yang berada di ketinggian pulau terselatan Indonesia Pulau Rote, so pasti Bebalain menjadi pintu gerbang terselatan Indonesia, karena berbatasan langsung dengan samudera Hindia. Bebalain memang indah, kalau berdiri di puncak HITUK hampir semua daratan di Pulau Rote terlihat, mungkin karena itu juga di namai Bebalain (bebak paling atas) he..he... saya juga tidak tahu.

Di sanalah saya dilahirkan, dusun kecil di tempat terpencil.....................................................menghabiskan masa kecil dengan bermain di pematang sawah, semua serba alami, tak ada sepeda,  motor apalagi mobil, yang ada hanya ringikan kuda,  mau tahu yang lebih banyak?????????? Nantikan cerita selanjutnya! Johan selalu punya Cerita.